Postingan

Menampilkan postingan dengan label Susila

tat tvam asi dan tri hita karana sebagai konsep kerukunan manusia

Gambar
PENDAHULUAN Dalam konsep Hindu untuk mewujud keharmonisan dan kerukunan sesama Umat manusia terutama Umat Beragama serta lingkungan dan semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ( Brahman / Ida Sang Hyang Widi Wasa ) adalah Berpedoman pada ajaran Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi. Ajaran tersebut dijadikan konsep yang sangat essensial mengenai bagaimana caranya bisa hidup rukun dan harmonis dalam suasana multicultural di NegaraIndonesiayang mempunyai karakter tersendiri di bandingkan Negara-negara lain di Dunia. Ajaran ini bersumber dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran bagi Umat Hindu yang harus diketahui, dipahami dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara. Apabila keharmonisan dan kerukunan sesama Umat ciptaan Tuhan di usahakan dan di upayakan secara terus menerus dengan segala kemampuan yang dimiliki serta berpedoman pada sastra Agama maka kedamaian yang  menjadi dambaan akan dapat diciptakan , dan dengan kedamai...

Doa Untuk Dewa Ganesha

Gambar
Dewa Ganesha merupakan salah satu dewa yang banyak dipuja umat Hindu, dari berbagai golongan dan keyakinan. Dewa Ganesha dipuja umat Budha, Jaina dan umat agama lainnya yang berasal dari kebudayaan India. Penggambaran dewa Ganesha cukup unik, Ia digambarkan sebagai dewa berkepala gajah. Ada beberapa mitologi dalam kitab purana menjelaskan asal-usul dewa Ganesha sebabnya berkepala gajah, seperti diuraikan dalam kitab Siva Purana. Dewa Ganesha memiliki banyak nama suci. Beberapa nama suci-Nya yang populer diantaranya Ganapati, Vinayaka, Lambodara. Di Nusantara, dewa Ganesha disebut Bhatara Gana. Beberapa kitab yang didedikasikan untuk Ganesha yaitu Ganesha Purana, Mudgala Purana, Ganapati Atharwashirsa. Dari berbagai uraian kitab suci, terutama purana, pada hakekatnya dewa Ganesha diberi tugas dalam tiga hal yaitu bertugas sebagai penghancur segala rintangan, penganugerah kecerdasan dan penganugerah kemakmuran. Umumnya, patung dewa Ganesha ditempatkan di depan pintu pekarangan, dipuja se...

Makna Canang sari, Daksina, Peras, Pejati, Ajuman, Sesayut

Gambar
1.       Makna Canang Sari Canang Sari merupakan ciptaan dari Mpu Sangkulputih yang menjadi sulinggih menggantikan Danghyang Rsi Markandeya di Pura Besakih.Canang sari ini dalam persembahyangan penganut Hindu Bali adalah kuantitas terkecil namun inti (kanista=inti). Kenapa disebut terkecil namun inti, karena dalam setiap banten atau yadnya apa pun selalu berisi Canang Sari. Canang sari sering dipakai untuk persembahyangan sehari-hari di Bali. Canang sari juga mengandung salah satu makna sebagai simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung. Canang berasal dari kata “Can” yang berarti indah, sedangkan “Nang” berarti tujuan atau maksud (bhs. Kawi/Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber. Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala. Dal...